Jumat, 26 Juni 2015

ASKEB I KONSEP DASAR ASUHAN KEHAMILAN


1.            FILOSOFI ASUHAN KEHAMILAN 

Dalam filosofi asuhan kehamilan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan itu.

1. Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis, bukan patologis. Oleh karenanya, asuhan yang diberikan pun adalah asuhan yang meminimalkan intervensi. Bidan harus memfasilitasi proses alamiah dari kehamilan dan menghindari tindakan-tindakan yang bersifat medis yang tidak terbukti manfaatnya.

2. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan (continuity of care) Sangat penting bagi wanita untuk mendapatkan pelayanan dari seorang profesional yang sama atau dari satu team kecil tenaga profesional, sebab dengan begitu maka perkembangan kondisi mereka setiap saat akan terpantau dengan baik selain juga mereka menjadi lebih percaya dan terbuka karena merasa sudah mengenal si pemberi asuhan .

3. Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta keluarga (family centered)
Wanita (ibu) menjadi pusat asuhan kebidanan dalam arti bahwa asuhan yang diberikan harus berdasarkan pada kebutuhan ibu, bukan kebutuhan dan kepentingan bidan. Asuhan yang diberikan hendaknya tidak hanya melibatkan ibu hamil saja melainkan juga keluarganya, dan itu sangat penting bagi ibu sebab keluarga menjadi bagian integral/tak terpisahkan dari ibu hamil. Sikap, perilaku, dan kebiasaan ibu hamil sangat dipengaruhi oleh keluarga. Kondisi yang dialami oleh ibu hamil juga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Selain itu, keluarga juga merupakan unit sosial yang terdekat dan dapat memberikan dukungan yang kuat bagi anggotanya. Dalam hal pengambilan keputusan haruslah merupakan kesepakatan bersama antara ibu, keluarganya, dan bidan, dengan ibu sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan. Ibu mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan kepada siapa dan dimana ia akan memperoleh pelayanan kebidanannya.

4. Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untuk berpartisipasi dan memperoleh pengetahuan/pengalaman yang berhubungan dengan kehamilannya. Tenaga profesional kesehatan tidak mungkin terus menerus mendampingi dan merawat ibu hamil, karenanya ibu hamil perlu mendapat informasi dan pengalaman agar dapat merawat diri sendiri secara benar. Perempuan harus diberdayakan untuk mampu mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui tindakan KIE dan konseling yang dilakukan bidan.

Seorang bidan harus memahami bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses yang alamiah dan fisiologis, walau tidak dipungkiri dalam beberapa kasus mungkin terjadi komplikasi sejak awal karena kondisi tertentu/ komplikasi tersebut terjadi kemudian. Proses kelahiran meliputi kejadian fisik, psikososial dan kultural.

Kehamilan merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi perempuan, keluarga dan masyarakat. Perilaku ibu selama masa kehamilannya akan mempengaruhi kehamilannya, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janin yang dilahirkan. Bidan harus mempertahankan kesehatan ibu dan janin serta mencegah komplikasi pada saat kehamilan dan persalinan sebagai satu kesatuan yang utuh.


2.             RUANG LINGKUP ASUHAN KEHAMILAN MELIPUTI

1. Konsepsi :
Bersatunya ovum dan sperma yang didahului oleh ovulasi dan inseminasi
2. Ovulasi :
Runtuhnya ovum dari folikel dalam ovarium bila ovum gagal bertemu dalam waktu 2 x 24 jam → mati/hancur
3. Inseminasi :
Keluarnya sperma dari urethra pria kedalam vagina wanita. Sperma bergerak melalui uterus → tuba fallopi dengan kecepatan 1 kaki/jam. Alat gerak sperma → Ekor dengan panjang rata-rata 10x bagian kepala
4. Asuhan kehamilan normal dan identifikasi kehamilan dalam rangka penapisan untuk menjaring keadaan resiko tinggi dan mencegah adanya komplikasi kehamilan.

STANDAR ASUHAN KEHAMILAN
Kebijakan program : Anjuran WHO
• Trimester I : Satu kali kunjungan
• Trimester II : Satu kali kunjungan
• Trimester II : Dua kali kunjungan

Standar Minimal Asuhan Antenatal : “7 T”
1. Timbang berat badan
2. Tinggi fundus uteri
3. Tekanan darah
4. Tetanus toxoid
5. Tablet Fe
6. Tes PMS
7. Temu wicara

Sebagai profesional bidan, dalam melaksanakan prakteknya harus sesuai dengan standard pelayanan kebidanan yang berlaku. Standard mencerminkan norma, pengetahuan dan tingkat kinerja yang telah disepakati oleh profesi. Penerapan standard pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan atas dasar yang jelas. Kelalaian dalam praktek terjadi bila pelayanan yang diberikan tidak memenuhi standard dan terbukti membahayakan.

3.            PRINSIP POKOK ASUHAN KEHAMILAN


Prinsip-prinsip pokok asuhan antenatal konsisten dengan dan didukung oleh prinsip-prinsip asuhan kebidanan. Lima prinsip-prinsip utama asuhan kebidanan adalah :

a. Kelahiran adalah proses yang normal :
Kehamilan dan kelahiran biasanya merupakan proses yang normal, alami dan sehat. Sebagai bidan, kita membantu dan melindungi proses kelahiran tersebut. Sebagai bidan kita percaya bahwa model asuhan kebidanan yang membantu dan melindungi proses kelahiran normal, adalah yang paling sesuai untuk kebanyakan ibu selama kehamilan dan kelahiran.

b. Pemberdayaan :
Ibu dan keluarga mempunyai kebijaksanaan dan seringkali tau kapan mereka akan melahirkan. Keyakinan dan kemampuan ibu untuk melahirkan dan merawat bayi bisa ditingkatkan atau dihilangkan oleh orang yang memberikan asuhan padanya dan oleh lingkungan dimana ia melahirkan. Jika kita bersikap negatif atau kritis, hal ini akan mempengaruhi si ibu. Hal ini juga dapat mempengaruhi lamanya waktu persalinan. Kita, sebagai bidan, harus membantu ibu yang melahirkan daripada untuk mencoba mengontrol persalinannya. Kita harus menghormati bahwa ibu adalah aktor utama dan penolong persalinan adalah aktor pembantu selama proses kelahiran.

c. Otonomi :
Ibu dan keluarga memerlukan informasi sehingga mereka dapat membuat suatu keputusan. Kita harus tau dan menjelaskan informasi yang akurat tentang resiko dan keuntungan semua prosedur, obat-obatan dan tes. Kita juga harus membantu ibu dalam membuat suatu pilihan tentang apa yang terbaik untuk diri dan bayinya berdasarkan nilai dan kepercayaannya (termasuk kepercayaan-kepercayaan budaya dan agama)

d. Jangan Membahayakan :
Intervensi haruslah tidak dilaksanakan secara rutin kecuali terdapat indikasi-indikasi yang spesifik. Pengobatan pada kehamilan, kelahiran atau periode pasca persalinan dengan tes-tes ”rutin”, obat atau prosedur dapat membahayakan bagi ibu dan bayinya. Misalnya prosedur-prosedur yang keuntungannya tidak mempunyai bukti termasuk episiotomi rutin pada primipara, enema dan pengisapan pada semua bayi baru lahir. Bidan yang terampil harus tau kapan harus melakukan sesuatu. Asuhan selama kehamilan, kelahiran dan pasca persalinan, seperti halnya juga penanganan komplikasi harus dilakukan berdasarkan suatu bukti.

e. Tanggung Jawab :
Setiap penolong persalinan harus bertanggung jawab terhadap kualitas asuhan yang ia berikan. Praktek asuhan maternitas harus dilakukan berdasarkan kebutuhan ibu dan bayinya, bukan atas kebutuhan penolong persalinan. Asuhan yang berkualitas tinggi, berfokus pada klien dan sayang ibu berdasarkan bukti ilmiah sekarang ini adalah tanggung jawab semua bidan.


4.            SEJARAH ASUHAN KEHAMILAN

Dimasa yang lalu, bidan dan dokter banyak menggunakan waktu selama kunjungan antenatal untuk penilaian resiko berdasarkan riwayat medis dan obstetri serta temuan-temuan fisik yang lalu. Tujuan dari penilaian resiko ini adalah untuk mengidentifikasi ibu yang beresiko tinggi dan merujuk ibu-ibu ini untuk mendapatkan asuhan yang khusus. Sekarang kita telah mengetahui bahwa penilaian resiko tidak mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal. Penilaian resiko juga tidak menjamin perkiraan, ibu yang mana yang akan mempunyai masalah selama persalinan. Mengapa penilaian resiko tidak lagi digunakan? Ia tidak lagi dipergunakan karena setiap ibu hamil akan menghadapi resiko komplikasi dan harus mempunyai jangkauan kepada asuhan kesehatan maternal yang berkualitas. Hampir tidak mungkin memperkirakan ibu hamil yang mana yang akan menghadapi komplikasi yang akan mengancam keselamatan jiwa secara akurat. Banyak ibu-ibu yang digolongkan ”beresiko tinggi” yang tidak mengalami komplikasi apapun. Misalnya seorang ibu yang tingginya kurang dari 139 cm mungkin akan melahirkan bayi seberat 2500 gram tanpa masalah. Demikian juga, seorang ibu yang mempunyai riwayat tidak begitu berarti, kehamilan normal dan persalinan yang tidak berkomplikasi mungkin saja mengalami perdarahan pasca persalinan.

Dalam suatu studi di Zaire, dengan menggunakan berbgai macam metode, formula dan skala untuk melakukan penapisan ”resiko” diteliti. Studi ini menemukan bahwa 71 % ibu yang mengalami partus macet tidak digolongkan ke dalam kelompok beresiko sebelumnya. Sebagai tambahan, 90 % ibu-ibu yang diidentifikasi ”beresiko” tidak mengalami komplikasi. Kebanyakan ibu-ibu yang mengalami komplikasi tidak mempunyai faktor resiko dan digolongkan ke dalam kelompok ”beresiko rendah”. Suatu contoh seorang ibu yang beresiko rendah adalah berumur 24 tahun, G2 P1 tanpa faktor resiko dan persalinan normal yang melahirkan bayi 3 kg dan mengalami perdarahan 1000 cc karena atonia uteri.


5.            TUJUAN ASUHAN ANENATAL

1.Mempersiapkan kondisi fisik dan fsikis ibu dan keluarga dalam menghadapi persalinan
2.Memantau perkembangan kehamilan,menjamin kesehatan ibu dan anak pertumbuhan janin yang normal.
3.Mendeteksi dan menangani komplikasi yang terjadi sedini mungkin
4.Mempersiapkan kondisi ibu,baik fisik dan proses atasi
5.Membina kepercayaan antara keluarga dan nakes sebagai ibu
6.            STANDAR PELAYANAN ANTENATAL

1.Standart I : Falsafah dan Tujuan
Pengelola pelayanan kebidanan memiliki Visi,Misi,Filosofi,dan Tujuan pelayanan serta organisasi pelayanan sebagai dasar untuk melaksanakan tugas pelayanan yang efektif dan efisien.

2.Standart II : Administrasi dan Pengelolaan
Pengelola pelayanan kebidanan memiliki pedoman pengelolaan pelayanan,standart pelayanan,prosedur tetap dan pelaksanaan kegiatan pengelolaan pelayanan yang kondusif yang memungkinkan terjadinya praktek pelayanan kebidan akurat.

3.Standart III : Staff dan Pimpinan
Pengelola pelayanan kebidanan mempunyai program pengelolaan sumber daya manusia,agar pelayanan kebidanan berjalan efektif dan efisien.

4.Standart IV : Fasilitas dan peralatan
Tersedia sarana dan peralatan untuk mendukung pencapaian tujuan pelayanan kebidanan sesuai dengan beban tugasnya dan fungsi institusi pelayanan.

5.Standart V : Keijaksanaan dan prosedur
Pengelola pelayanan kebidanan memiliki kebijakan dalam penyelenggaraan
Pelayanan dan pembinaan personil menuju pelayanan yang berkualitas

6.Standart VI : Pengembangan staf dan program pendidikan.
Pengelolah pelayanan kebidanan memiliki program pengembangan staf dan perencanaan pendidikan, sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
7.Standart VII : Standart asuhan
Pengelolah pelayanan kebidanan memiliki standart asuhan atau manajemen kebidanan yang diterapkan sebagai pendoman dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

8.Standart VIII : Evaluasi dan pengendalian mutu
Pengelolah pelayanan kebidanan memiliki program dan pelaksanaan dalam evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan kebidanan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.





7.            TIPE PELAYANAN ASUHAN ANTENATAL

Peran bidan :
1.Sebagai pelaksana

Peran sebagai pelaksana dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :
a.Tugas mandiri : Kita sebagai bidan dapat melakukan tindakan tau penyuluhan tanpa bantuan tim kesehatan lain.
b.Tugas kolaborasi : Bidan bersama tim kesehatan lainnya bekerjasama untuk memberikan penyuluhan atan tindakan kesehatan.
c.Tugas ketergantungan / rujukan : Peran bidan dalam hal ini merujuk kliennya dimana harus mendapatkan perawatan khusus atau fasilitas yang memadai dan tenaga kesehatan yang ahli

2. Sebagai pengelola

a.Mengembangkan pelayanaan dasar kesehatan untuk individu, kelompok,dan masyarakat klien.
b.Menyusun rencana kerja pelayanaan dasar kesehatan dengan masyarakat.
c.Mengelola hasil kesehatan pelayanan kesehatan khususnya kepada ibu dan anak serta masyarakat.
d.Berpartisipasi dan meningkatkan mutu kesehatan masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan kegiatan.
e.Bekerjasama dengan puskesmas insitusi lain dalam memberikan asuhan kepada klien.

3. sebagai pendidik

a.Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada idividu,keluarga, kelompok dan masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak.
b.Melatih dan mendidik karir termasuk bidan dan perawat.
c.Menyusun rencana penyuluhan kesehatan masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang telah dikaji.
d.Melaksanakan program atau rencana pendidikan dan penyuluhan kesehatan masyarakat sesuai dengan rencana
e.Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil pendidikan penyuluhan kesehatan masyarakat secara lengkap.

3. Sebagai peneliti / Investor

a.Melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan secara mandiri maupun kelompok
Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilaksanakan
Menyusun rencana kerja pelatihan
Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana
Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi
Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut
Manfaatkan hasil penelitian dan meningkatkan kerja pelayanan kesehatan masyarakat

8.            HAK-HAK WANITA HAMIL 


a. Wanita hamil berhak mendapat penjelasan oleh tenaga kesehatan yang memberikan asuhan tentang efek-efek potensial langsung/tidak langsung dari penggunaan obat atau tindakan selama masa kehamilan, persalinan. Kelahiran atau menyusui
b. Wanita hamil berhak mendapat informasi terapi alternatif sehingga dapat mengurangi atau meniadakan kebutuhan akan obat dan intervensi obstetri
c. Pasien kebidanan berhak untuk merawat bayinya sendiri bila bayinya normal
d. Pasien kebidanan berhak memperoleh informasi tentang siapa yang akan menjadi pendampingnya selama persalinan dan kualifikasi orang tersebut
e. Pasien kebidanan berhak memperoleh/memiliki catatan medis dirinya serta bayinya dengan lengkap, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
f. Wanita hamil berhak mendapat informasi efek tindakan yang akan dilakukan baik pada ibu & janin
g. Wanita hamil berhak untuk ditemani selama masa-masa yang menegangkan pada saat kehamilan & persalinan
h. Pasien kebidanan berhak memperoleh catatan perincian biaya RS/tindakan atas dirinya.
i. Wanita hamil berhak mendapat informasi sebelum/bila diantisipasi akan dilakukan SC
j. Wanita hamil berhak mendapat informasi tentang merk obat dan reaksi yang akan ditimbulkan atau reaksi obat yang pernah dialaminya
k. Wanita hamil berhak mengetahui nama-nama yang memberikan obat-obat atau melakukan prosedur tindakan
l. Wanita hamil berhak mendapat informasi yang akan dilakukan atasnya
m. Wanita hamil berhak memilih konsultasi medik untuk memilih posisi yang persalinan yang dapat menurunkan stress

9.            TENAGA PROFESIONAL/PENOLONG YANG TERAMPIL 

Tindakan bidan saat kunjungan antenatal : 
1. Mendengarkan dan berbicara kepada ibu serta keluarganya untuk membina hubungan saling percaya
2. Membantu setiap wanita hamil dan keluarga untuk membuat rencana persalinan
3. Membantu setiap wanita hamil dan keluarga untuk persiapan menghadapi komplikasi
4. melakukan penapisan untuk kondisi yang mengharuskan melahirkan di RS
5. Mendeteksi dan mengobati komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa (pre-eklamsia, anemia, PMS)
6. Mendeteksi adanya kehamilan ganda setelah usia kehamilan 28 mg dan adanya kelainan letak setelah usia kehamilan 36 mg
7. Memberikan konseling pada ibu sesuai usia kehamilannya, mengenai nutrisi, istirahat, tanda-tanda bahaya, KB, pemberian ASI, ketidaknyamanan yang normal selama kehamilan dsb
8. Memberikan suntikan imunisasi TT bila diperlukan
9. Memberikan suplemen mikronutrisi, termasuk zat besi an folat secara rutin, serta vitamin A bila perlu


10.         PERAN DAN TANGGUNG JAWAB BIDAN DALAM ASUHAN KEHAMILAN
 
Pada setiap tingkat masyarakat dan negara terdapat tindakan yang dapat diambil oleh bidan untuk membantu memastikan bahwa ibu-ibu tidak akan meninggal dalam kehamilan dan kelahiran.

Tindakan-tindakan ini dapat dilakukan pada beberapa tingkatan :
1. Rumah dan masyarakat
2. Pusat kesehatan atau rumah bersalin
3. Rumah sakit

Rumah, masyarakat
a. Bagilah apa yang anda ketahui :
bidan dapat mengajar ibu-ibu, anggota masyarakat lainnya, bidan-bidan lain dan petugas kesehatan lainnya tentang tanda-tanda bahaya. Ia juga dapat membagi informasi tentang dimana mencari petugas dan fasilitas kesehatan yang dapatmembantu jika tanda-tanda bahaya terjadi. Ia dapat menekankan alasan dan keuntungan didampingi oleh penolong kesehatan yang terampil pada saat persalinan selain mempromosikan dan menunjukkan perilaku yang sehat. Bidan juga harus mengajarkan sesuatu berdasarkan kebutuhan orang yang ia layani.

b. Jaringan promosi kesehatan :
bidan harus melakukan kontak yang positif dengan pemuka-pemuka masyarakat, selain ibu-ibu yang lebih tua dan gadis-gadis muda di dalam masyarakatnya. Ia dapat mengajari keluarga dan masyarakat bagaimana mengenali ibu yang memerlukan asuhan kegawatdaruratan dan bagaimana mengatur asuhan tersebut (dana darurat, pola menabung, transportasi, komunikasi, donor darah).

c. Membangun kepercayaan :
bidan harus berperilaku yang memberikan rasa hormat kepada ibu dan keluarga yang ia layani. Membangun kepercayaan adalah suatu keterampilan penyelamatan jiwa. Jika seorang bidan memiliki keterampilan teknis untuk menangani eklampsia atau perdarahan pasca persalinan, tetapi ia tidak dipercaya, maka tidak ada seseorangpun yang akan meminta bantuannya. Walaupun seorang bidan mempunyai keterampilan teknis untuk menyelamatkan jiwa seorang ibu, tetapi tidak memiliki kepercayaan dari ibu tersebut, ia tidak akan diberikan kesempatan untuk mempergunakan keterampilannya dan menyelamatkan jiwa si ibu tadi.

Pusat Kesehatan atau rumah bersalin
a. Asuhan yang berkualitas :
memberikan asuhan yang berkualitas pada kelahiran akan membantu mencegah komplikasi, mendeteksi masalah lebih dini dan kemampuan untuk mengatur , menstabilisasi dan merujuk masalah yang memerlukan penanganan di rumah sakit.

b. Penatalaksanaan kegawatdaruratan awal :
memberikan penatalaksanaan awal perdarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis, aborsi yang tidak aman dan partus macet sangat penting untuk menyelamatkan jiwa ibu.

c. Memberikan contoh yang baik :
bidan harus memberikan contoh yang baik kepada bidan lain, petugas kebersihan dan staf yang lain. Bidan harus memberikan contoh pelaksanaan dan pencegahan infeksi yang baik dan keterampilan-keterampilan interpersonal yang berkualitas.

Rumah Sakit
a. Penatalaksanaan Komplikasi :
memberikan pelayanan seperti bantuan vacum ekstraksi, magnesium sulfat, antibiotik intra vena, plasenta manual, tranfusi darah dan operasi sesar yang sangat penting.

b. Memberikan contoh yang baik :
bidan harus mengajarkan dan memberikan contoh, asuhan maternitas yang berkualitas, termasuk keterampilan berkomunikasi secara interpersonal kepada semua kolega

11.         ISSU TERKINI DALAM ASUHAN ANTENATAL

Mengahadapi pembangunan jangka panjang tahap II, terdapat tiga issu nasional , yaitu : upaya mengentaskan kemiskinan, tingginya angka kematian ibu dan perinatal, dan peningkatan sumber daya manusia. disamping itu dihadapi perubahan pola penyakit dalam bentuk infeksi STD serta AIDS, infeksi hepatitis B, serta penyakit degeneratif.
Dalam bidang kesehatan masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia, sebagai issu sentral pembangunan peranan bidan khususnya menurunkan angaka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal sangat penting terutama didaerah pedesaan.




12.        EVIDANCE BASET DALAM PRAKTEK ANTENATAL

1.Memberikan informasi kepada publik mengenai praktek-praktek tersebut termasuk intervensi-intervensi dan hasil asuhannya
2.Memberi asuhan yang sifatnya peka dan responsif bertalian dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat yang dianut ibu.
3.Mengajarkan petugas pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri tanpa penggunaan obat-obatan
4.Mendorong semua ibu ( keluarganya ), termasuk mereka yang bayinya sakit dan kurang bulan agar mengelus, mendekap, memberi asi dan mengasuh bayinya sendiri.
5.Menganjurkan agar jangan menyunat bayi baru lahir jika bukan karna kewajiban agama



HIV/AIDS PADA REMAJA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1                 Latar Belakang
  Pemahaman remaja tentang HIV/ AIDS masih sangat minim. Padahal, remaja termasuk kelompok usia yang rentan dengan perilaku berisiko. Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Bidang Pengembangan Program Kemal Siregar mengatakan, salah satu indikator kinerja pengendalian HIV/AIDS ialah pengetahuan. Persentase perempuan dan laki-laki usia muda (15-24 tahun) yang mampu menjawab dengan benar cara-cara pencegahan penularan HIV serta menolak pemahaman yang salah mengenai penularan HIV baru 14,3 persen. Persentase itu antara lain mengindikasikan belum banyak remaja yang menguasai dengan komprehensif dan benar tentang HIV/AIDS. Edukasi remaja menjadi penting karena remaja termasuk orang terinfeksi HIV. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS (kumulatif) sampai Agustus 2012 dari semua umur 21.770 orang. London – Dua ilmu wan yang menemukan HIV berbagi Nobel Kedokteran dengan ilmuwan yang mengkaitkan HPV dengan kanker rahim, adapun kedua ilmuwan ini masing-masing Barré-Sinoussi dan Luc Montagnier. Keduanya dinilai berjasa dengan penelitian mereka dalam nememukan virus penyebab AIDS.
  Komite Nobel mengatakan penemuan kedua warga Perancis itu amat vital dalam membantu para ilmuwan memahami biologi dari virus yang mengancam dunia.
Lebih dari 25 juta orang meninggal akibat HIV/AIDS sejak tahun 1981 dan di seluruh dunia tercatat 33 juta orang yang mengidap virus HIV. Temuan Sinoussi dan Montagnier antara lain mendorong metode diagnosa pasien maupun dalam memeriksa darah, yang membatasi penyebaran wabah HIV/AIDS.Walau masih belum ditemukan obat untuk HIV, dalam beberapa tahun belakangan penyakit itu tidak lagi menjadi hukuman mati langsung bagi penderitanya.Pengobatan saat ini sudah berhasil memperpanjang masa hidup pengidap HIV sampai puluhan tahun.
Sementara itu Harald zur Hausen, asal Jerman, meraih Nobel Kedokteran karena jasanya dalam mengkaitkan HPV, atau human papilloma virus, dengan kanker rahim.
  HPV bisa dideteksi pada 99,7% yang menderita kanker rahim dan infeksi virus itu diperkirakan menyebabkan sekitar 5% dari total kanker di seluruh dunia. Hasil temuan Professor zur Hausen membantu para ilmuwan untuk mengembangkan vaksin bagi HPV.






1.2                 Tujuan
1.2.1           Tujuan Umum
  Untuk menambah pengetahuan, wawasan,  dan keterampilan penulis dalam memberikan promosi kesehatan dengan masalah HIV AIDS pada remaja.
1.2.2           Tujuan Khusus
·                        Untuk mengetahui lebih jauh tentang HIV AIDS pada remaja,
·                        Untuk mengetahui tentang sebab terjadinya HIV AIDS pada remaja,
·                        Untuk mengetahui penatalaksanaan pada remaja yang terkena HIV AIDS.






  

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian HIV/AIDS
              Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV,FIV,dll). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus HIV), yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
              HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua Negara.
              Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

2.2 Cara Penularan Virus HIV?
              HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, air susu ibu dan cairan lainnya yang mengandung darah. Virus tersebut menular melalui :
·                        Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi. Kondom adalah satu–satunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah.
·                        Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.
·                        Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi.
·                        Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui.


2.3 Gejala-Gejala AIDS
              Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak setelah + 3 bulan. Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah :
  Berat badan turun dengan drastis.
·                        Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C),
·                        Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan paha)yang timbul tanpa sebab,
·                        Mencret atau diare yang berkepanjangan,
·                        Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (Kanker kulit atau KAPOSI SARKOM),
·                        Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan,
·                        Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lama-kelamaan akan berakhir dengan kematian.


2.4 Yang Beresiko Tinggi Terkena HIV
              Orang atau kelompok orang yang beresiko tinggi terkena AIDS. Kelompok yang sangat beresiko tinggi diantaranya adalah para homoseksual dan Heteroseksual yang suka bergonta ganti pasangan, khususnya yang suka jajan (dalam tanda petik "melalui pelacuran"). Jika dilhat dari kelompok usia, maka yang sangat beresiko tinggi penularan Virud HIV adalah kelompok remaja atau anak muda yaitu usia sekitar 13-25 tahun. Karena kelompok usia tersebut pergaulan bebasnya sangat tinggi terlebih di negara-negara yang tidak mengutamakan nilai moral, etik, dan agama. Sebagai contoh di Amerika serikat, katanya 7 dari 10 wanita dan 8 dari 10 pria melakukan hubungan seksual sebelum umur 20 tahaun atau dibwah 20 tahun. Dan satu dari 6 pelajar wanita yang pergaulannya sangat bebas (sexually active), paling sedikit telah berganti-ganti pasangan dengan 4 pria yang berbeda ( wow sangat mengherankan buat saya).
              Satu lagi, setiap tahunya 1-7 remaja tersebut terkena penyakit kelamin (Veneral Disease). Dan masih banyak lagi penyakit yang disebabakn pergaulan bebas dan seks bebas seperti kecing nanah, sifilis, PHS (Penyakit Hubungan Seksual) atau PMS ( Penyakit Menular Seksual) dan lain-lainnya. Selain itu permasalahan lain yang berdampak resiko tertular Virus HIV  adalah orang yang pergi dari rumah dan bisanya terjadi pada usaia remaja juga yang berusia sekitar 12-17 tahun yang terctat sekarang ini 85% wanita maupun pria yang pergi dari rumah termasuk golongan seksual aktif dan juga termasuk golongan pencadu narkoba atau narkotika. Remaja putri yang pergi dari rumah 34%  biasanya hamil dan sangat beresiko tinggi tertular virus HIV.


2.5 Penatalaksanaan
Ø     Pendidikan seks sejak dini
              Pendidikan seks sejak dini sebetulnya bukan hal baru lagi,sejak dulu sudah banyak orang mengkampanyekan agar orang tua dan dunia pendidikan mengenalkan anak sejak usia dini tentang seks. Tetapi sepertinya belum berhasil,sebab masih saja orang tua kita menggangap pendidikan seks bagi anak hal yang tabu. Sehingga ketika anak tidak mendapat ajaran yang baik tentang seks. Maka Sang anak pun dimasa pubernya akan terus mencari tahu rasa penasaran tentang apa seks itu. Hal yang paling mengkhwatirkan Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, informasi seks bisa dengan mudah diperoleh seorang anak, seperti dari internet, televisi atau pengetahuan dari teman sebayanya. Bisa saja saat remaja, mereka telah mengetahui lebih banyak tentang seks dan kemungkinan besar dari sudut pandang yang salah. Otak remaja akan merekam sensasi yang pernah dilihat dan menjadikannya memori yang permanen karena adanya sebuah ransangan yang menyenangkan terhadap momen tersebut. Dengan adanya momen yang telah tertanam ini,maka pikiran seorang wanita remaja akan bisa secara acak memunculkan momen tersebut. Ketika momen itu datang,maka birahi juga akan terdorong untuk dipuaskan. Ketika naluri seks anak di usia remaja ini tidak diarahkan dengan baik dan benar maka seks bebas dan hamil di luar nikah sebagai akibatnya. Itulah mengapa pendidikan seks pada anak sejak dini itu penting. Karena dengan memberikan Pemahaman dan pendidikan seks sejak usia dini ini diharapkan agar anak memperoleh informasi yang tepat soal seks.Mengajarkan masalah seks pada anak-anak memang tidaklah mudah. Jika salah paham bisa-bisa anak malah takut, bukannya mengerti bahkan salah mengerti. Tetapi Pendidikan seks tidak harus bicara tentang anggota tubuh, melainkan lebih terfokus pada bagaimana mereka mengenal dirinya, punya konsep diri yang positif dan matang. Mengajari anak nama-nama anggota tubuh termasuk alat kelamin mereka Pada saat anak berusia 2-3 tahun, mengajari anak mengenai fungsi alat kelamin mereka pada usia memasuki usia prasekolah sampai lulus sekolah dan ketika memasuki usia remaja, mengajari mereka bagaimana mereka mengalami pubertas, seperti berubahnya bentuk tubuh dan organ-organ vital mereka, terjadinya menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Merupakan tahapan usia-usia anak saat memberikan pendidikan seks yang benar.
  Jika sang anak mendapat pendidikan seks yang baik dan benar dari orang tua,bukan tidak mungkin seks bebas dikalangan remaja bisa diatasi dan tingkat penderita HIV/AIDS bisa dikurangi. Sehingga kampanye pemakaian kondom saat ini bisa diperuntukkan bagi kalangan remaja yang sudah terlanjur terkena penyakit ini dan pekerja seks komersial yang berisiko lebih besar terkena penyakit HIV/AIDS. Kampanye penggunaan kondom merupakan sebuah solusi mencegah penularan penyakit HIV/AIDS tetapi solusi untuk mencegah semakin banyaknya korban yang terkena penyakit HIV/AIDS adalah memberikan pendidikan seks sejak usia Dini agar anak-anak kita di usia remaja tidak menjadi korban. 1. Melakukan program pencegahan dengan melalui KIE (komunikasi, edukasi & informasi) misalnya dengan melalui ceramah, seminar, media seperti booklet, leaflet, poster, sticker, bulletin ataupun majalah/koran.

Ø     Melakukan program penurunan resiko
  Selain pencegahan, maka perlu juga dilakukan program-program yang secara langsung ditujukan pada para IDU's misalnya dengan penyediaan jarum suntik steril, memberikan penyuluhan kepada mereka dan partner seks mereka agar mereka menyadari resiko-resiko perilakunya dalarn kaitannya dengan HIV/AIDS, menyediakan pelayanan konseling bagi para IDU's maupun bagi IDU's yang sudah hidup dengan HIV/AIDS, menyediakan pelayanan kesehatan dan juga menyediakan kondom. Memang program penurunan resiko ini cukup dilematis, di satu pihak itu memberikan kesan bahwa program ini justru melegalkan penyalahgunaan napza ataupun hubungan seks, namun di pihak lain ini merupakan sebuah strategi yang cukup efektif khususnya bagi remaja yang sudah aktif menggunakan napza, maupun yang sudah seksual aktif. Hal yang perlu diingat adalah bahwa kondisi remaja itu berbeda-beda, ada yang perilakunya tidak / kurang beresiko namun ada pula remaja yang perilakunya beresiko tinggi, dan tentu saja hal ini harus disikapi dengan metode yang berbeda sesuai dengan karakteristiknya.

Ø     Melakukan program outreach dan pendidik teman sebaya
  Remaja biasanya lebih dekat dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orang tua ataupun gurunya sehingga apabila ada permasalahan maka mereka lebih suka untuk datang ke temannya baik untuk menceritakan maupun meminta solusi atas permasalah yang dialaminya. Dengan adanya program pendidik teman sebaya ini maka remaja akan menjadi nara sumber bagi remaja lainnya.



Ø     Melalui rehabilitasi
  Bagi remaja yang sudah ketagihan dan pengkonsumsi berat narkoba maka tidak ada jalan lagi kecuali 'disembuhkan' dengan cara rehabilitasi baik secara medis, psikis (spiritual) dan cara-cara yang lainnya. Masa remaja memanglah masa yang indah, penuh dengan petualangan, sekaligus penuh dengan resiko, termasuk ketagihan obat-obat terlarang. Hai remaja akankah kamu menyia-nyiakan masa mudamu dengan hal yang akan mengubur masa depanmu dan cita-citamu?


2.6 Masalah Yang Di Hadapi Orang Tua Untuk Berbicara Mengenai Soal-Soal Yang Berhubungan Dengan HIV/AIDS

1.                     Orang tua tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya,

2.                     Orang tua tidak ada saat di butuhkan, 

3.                     Orang tua mengalami kesulitan menjawab pertanyaan remaja,

4.                     Orang tuan punya cukup informasi dan malu atau takut salah.


2.7 Cara Berkomunikasi Dengan Remaja
  Dasar Komunikasi :
              Komunikasi adalah secara penyampaian pikiran dan perasaan melalui bahasa, pembicaraan, pendengar, dan gerak tubuh.

  Tujuan Komunikasi
1.                     Membangun hubungan yang harmonis remaja, 
2.                     Membentuk suasana keterbukaan dan mendengar,
3.                     Membuat remaja mau berbicara saat menghadapi masalah, 
4.                     Membuat remaja mau mendengar dan menghargai orang tua.







BAB IV
PENUTUP

  4.1 Kesimpulan
               Kesimpulan dari makalah di atas itu, bawasannya kita harus Waspada terhadap Virus HIVAIDS. Di atas juga menjelaskan tentang pengertian HIV AIDS, asal usul-nya, cara penularannya, masa inkubasinya, gejalanya hingga yang beriso tinggi terkena HIV AIDS. Anda bisa membacanya dengan lebih lengkap lagi di atas yang telah saya susun dengan rapi. Kita sebagai orang yang sehat harus waspada terhadap virus tersebut, kalau bisa kita juga jangan sampai terlibat/terkena virus HIV AIDS.
4.2 Saran
               Saran kami kepada  pembaca jangan mendekatlah dengan virus HIV AIDS agar kita tidak terjerumus ke dalam virus tersebut, biasanya orang yang terkena virus HIV itu gara-gara orang itu psiko tinggi (heteroseksual) biasanya banyak terjadi pada kaum perempuan yang selalu gonta ganti pasangan. Itulah saran dari saya, terutama kepada kaum perempuan yang suka gonta ganti pasangan.





  









Minggu, 21 Juni 2015

Langkah Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Pengertian
IMD adalah upaya pertama dalam menyusui bayi. IMD merupakan pemberian ASI pada bayi sedini mungkin. Biasanya IMD dilakukan sesegera mungkin setelah bayi terlahir.
Pada saat ini semua tenaga kesehatan telah dituntut melakukan IMD. Namun, Anda yang sedang hamil atau keluarga ada keluarga Anda yang sedang menjelang melahirkan, harus mengetahui tentang IMD. Biasanya ketika melahirkan di bidan praktik, tidak semua bidan mau melaksanakan IMD pada pasiennya. Ketika sebelum melahirkan, sebaiknya Anda meminta atau berpesan dahulu pada penolong persalinan untuk dapat melakukan IMD pada bayi Anda.
IMD disinyalir dapat menurunkan angka kematian bayi dan dapat meningkatkan kemauan bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif. Masih banyak lagi manfaat lain dari melakukan IMD. IMD merupakan salah datu prinsip pemberian ASI sedini mungkin, eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun. Melakukan IMD dapat meningkatkan ikatan kasih sayang pada anak (asih), memberikan nutrisi terbaik (asuh) serta melatih refleks dan motorik bayi (asah).
Ketika Anda dapat melakukan IMD, maka manfaat yang Anda dapatkan adalah manfaat untuk seumur hidup anak. Anda pun juga tidak menyesal, telah mampu melakukan IMD. Karena IMD tidak dapat diulangi pada kesempatan dan waktu yang lain. Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan IMD:
·         Letakkan Bayi Tengkurap Di Dada Ibu
Langkah pertama dalam melakukan  inisiasi menyusu dini yaitu setelah bayi terlahir dan dikeringkan serta tali pusat sudah dipotong dan diikat, kemudian meletakkan bayi di atas dada ibu dengan keadaan tengkurap. Ketika mengeringkan bayi, usahakan punggung tangan bayi jangan dikeringkan. Bau cairan air ketuban pada tangan bayi dapat membantu bayi mencari puting ibunya yang berbau sama.
Tengkurapkan bayi dengan posisi bahu lurus, agar bayi dapat menempel pada dada ibu. Kepala bayi berada diantara payudara ibu, namun letaknya lebih rendah dari puting. Ketika bayi keadaan tengkurap, Anda dan bayi Anda sebaiknya diselimuti dan bayi diberi topi. Lakukan cara ini hingga paling sedikit selama satu jam. Ibu harus memeluk dan membelai bayinya. Jika perlu, letakkan bantal di bawah kepala ibu untuk mempermudah kontak dengan bayi.
·         Biarkan Bayi Mencari Dan Menemukan Puting Ibu Dan Mulai Menyusu
Ketika bayi Anda letakkan di atas dada selama satu jam, biarkan bayi mencari dan menemukan puting ibu dan mulai menyusu. Jangan sampai ada orang lain yang menyerukan atau mengarahkan bayi untuk menemukan puting ibu. Biasanya, yang banyak terjadi adalah memindahkan bayi dari satu puting ke puting yang lain. Hal ini jangan sampai dilakukan, karena bayi cukup menyusu pada satu payudara saja. Menyusu pertama kali berkisan antara 10-15 menit.

Sebagian besar bayi akan berhasil menemukan puting ibu dalam waktu 30-60 menit, tetapi biarkan bayi kontak dengan ibu selama 1 jam. Apabila bayi harus segera dipindah dari ruang bersalin sebelum 1 jam atau sebelum bayi menyusu, usahakan ibu dan bayi dapat dipindah secara bersamaan dan bayi tetap berada diatas dada ibu. Ketika bayi Anda tidak segera menemukan puting, padahal sudah lebih dari 1 jam, maka kepala bayi lebih dekatkan lagi dengan puting, agar bayi dapat segera menemukan.

Melakukan dekapan terhadap bayi bukan hanya pada saat IMD, namun ketika bayi Anda memiliki suhu tubuh yang lebih rendah yaitu ditandai dengan mendinginnya kaki bayi, maka segera lakukan metode seperti IMD. Bayi akan kontak dengan kulit ibu, sehingga akan mendapatkan kehangatan, namun Anda jangan sampai lupa ketika memberikan terapi ini, bayi tetap mengenakan topi agar tetap hangat.